STAI Muhammadiyah Probolinggo Urun Hasil Riset di Event Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019Pada tanggal 1-4 Oktober 2019, salah satu dosen STAI Muhammadiyah Probolinggo, Nuril Hidayah, menjadi presenter di event AICIS (Annual Internasional Conference on Islamic Studies) 2019 yang digelar di Hotel Mercure Batavia Jakarta. Bersama empat orang dosen dari PTKI lain, Nuril tergabung dalam panel group yang mengusung tema “Disinformation, Democracy, Religion, and Society”. Anggota panel yang lain adalah Nur Faizah dari IAI Qomaruddin Gresik, Zunly Nadia dari STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta, Nilna Fauza dan Nuril Hidayati dari IAIN Kediri. Panel ini terpilih sebagai kelompok presenter yang masuk dalam kategori selected panels.

Nuril sendiri mempresentasikan temuan-temuan riset yang menunjukkan bahwa disinformasi bermuatan agama merupakan bagian dari politics of fear. Politik ini dijalankan dengan menanamkan kecemasan buatan (manufactured anxiety) dalam pikiran korban disinformasi agar menjadi pribadi-pribadi paranoid yang dengan mudah diarahkan untuk memiliki identitas agama eksklusif. Identitas eksklusif ini kemudian berpotensi untuk menjadi radikal.

Event AICIS merupakan hajatan bergengsi yang digelar oleh Diktis Kemenag RI setiap tahun, untuk mempertemukan dosen dan peneliti internasional. Tahun 2019 ini, AICIS mengambil tema besar “Digital Islam, Youth, and Education”. Tema AICIS berubah setiap tahun mengikuti isu yang berkembang dalam Islamic Studies. Dengan mengusung tema di atas, AICIS kali ini menghasilkan Tiga Rekomendasi dalam menyikapi fenomena Digital Islam.
STAI Muhammadiyah Probolinggo Urun Hasil Riset di Event Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019
Ketua Steering Committee AICIS 2019, Profesor Noorhaidi Hasan, memaparkan, dalam forum ini berhasil dirumuskan masalah dalam menyikapi fenomena yang terjadi di negara-negara berpenduduk muslim sebagai akibat ketersinggungan agama, pluralisme dan demokratisasi. Berdasarkan rumusan masalah itu, rekomendasi yang dihasilkan adalah: (1) perlu pemahaman mendalam tentang kompleksitas Islam Digital sebagai hasil persinggungan antara silam society dengan digital teknologi. Terdapat kebutuhan pemikiran ulang atas perspektif lama studi Islam; (2) sarjana muslim perlu memperkaya studi digital Islam dan reorientasi metodologi khususnya terkait persinggungan Islam dengan gaya beragama anak muda milenial; (3) terkait pemahaman interpretatif dan wacana agama kaum muda, para pemangku kepentingan pendidikan Islam perlu melakukan langkah-langkah strategis, terintegrasi, dan komprehensif untuk mempromosikan Islam moderat di kalangan milenial.(Vya)

Related Post

Komentar