Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar penting dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pilar ini bermakna bahwa insan akademik di perguruan tinggi tidak hanya tinggal di menara gading, melainkan secara aktif berperan dalam melakukan transformasi sosial. Untuk melaksanakan pilar ini, dosen-dosen STAI Muhammadiyah Probolinggo berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat baik di bidang peningkatan keilmuan, keislaman, keindonesiaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, maupun kegiatan-kegiatan filantropi.

Edukasi literasi digital bagi masyarakat adalah bentuk pengabdian masyarakat yang digeluti oleh salah satu dosen STAI Muhammadiyah Probolinggo, Nuril Hidayah, MA. Melalui kiprahnya di komunitas masyarakat yang bergerak melawan hoaks bernama MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Nuril aktif melakukan edukasi literasi digital kepada berbagai lapisan masyarakat. Selain melakukan edukasi, komunitas ini juga aktif melakukan kegiatan cek fakta secara crowdsourcing. Hasil cek fakta ini dipublikasikan dan didiseminasikan melalui kanal-kanal media sosial. Hasil-hasil cek fakta ini kemudian dipetakan oleh divisi riset ini berdasarkan kategori-kategori tertentu oleh divisi penelitian dan pengembangan di mana Nuril menjadi anggotanya. Hasil pemetaan inilah yang menginspirasinya untuk melakukan riset tentang radikalisasi online.

Pada awal tahun 2019, MAFINDO merilis laporan tahunan tentang pemetaan hoaks di Indonesia selama tahun 2018. Dalam laporan tersebut tampak adanya peningkatan hoaks agama bersamaan dengan terjadinya beberapa peristiwa intoleransi dan kekerasan. Hal ini menimbulkan suatu dugaan bahwa ada hubungan yang signifikan antara peningatan hoaks bertema agama dengan insiden-insiden tersebut. Dugaan ini kemudian membawa Nuril pada pertanyaan penelitian “Bagaimana bentuk disinformasi bertema agama jika ditinjau dari perspektif manipulasi bahasa dan apa pengaruhnya bagi pembentukan identitas agama yang eksklusif?

Riset inilah yang membawanya sampai ke forum ilmiah internasional  27th AMIC International Conference yang dilaksanakan di Chulalongkorn University  Bangkok Thailand bertema “Communication, Technology, and New Humanism”. AMIC yang merupakan singkatan dari Asian Media Information and Communication Centre adalah asosiasi internasional akademisi komunikasi yang berusaha membangun keilmuan di bidang komunikasi dan informasi yang lebih Asian-based. Pada forum internasional ini periset dalam bidang komunikasi  dan informasi dari berbagai negara bertemu untuk menyajikan dan mendiskusikan isu-isu keilmuan terbaru dalam kaitannya dengan komunikasi, informasi, teknologi, dan humanisme baru.

Pada forum ini, Nuril berkesempatan memaparkan beberapa temuan risetnya di depan audiens dari berbagai negara. Melalui kacamata pragmatika bahasa, Nuril menjelaskan berbagai tipe manipulasi bahasa yang terdapat dalam hoaks-hoaks bertema agama yang tersebar di Indonesia. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa hoaks-hoaks tersebut berperan dalam membentuk identitas agama yang eksklusif sembari menciptakan kelompok-kelompok out group yang dilabeli dengan stereotip-stereotip negatif tertentu. Hal ini dilakukan dengan cara memanipulasi mekanisme filter informasi oleh publik yang berupa generalization, deletion, dan distortion.

Nuril mewanti-wanti bahwa stereotip-stereotip yang disebarkan lewat informasi palsu ini dapat menumbuhkan bibit-bibit kebencian yang bagaikan api dalam sekam. Dalam piramida kebencian, stereotip ini merupakan tahapan bias dan prasangka, sebelum menjadi diskriminasi, kekerasan, dan genosida. Akan tetapi, sekalipun bukan termasuk tindakan kriminal, sewaktu-waktu jika mendapatkan pemicu yang tepat, api ini dapat berubah menjadi gelombang kekerasan. Karena itu diperlukan upaya-upaya strategis untuk mengendalikan disinformasi bertema agama ini. Hal inilah yang mendorongnya untuk semakin aktif melakukan edukasi literasi digital bagi masyarakat.(VYA)