Sejak tanggal 4 hingga 24 November2019 salah satu dosen STAI Muhammadiyah Probolinggo, Nuril Hidayah, berkesempatan belajar tentang metodologi riset dan academic writing level internasional di Monash University Australia setelah melalui seleksi yang ketat. Kasubdit penelitian dan pengabdian masyarakat Kemenag RI, Dr Suwendi mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu program unggulan Kemenag RI. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas dosen-dosen di bawah kementrian agama agar memiliki ketrampilan menulis tingkat internasional dan mampu menghasilkan riset-riset kolaborasi internasional.
Kasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kemenag RI Dr. Mahrus El-Mawa menambahkan, dosen-dosen ini nanti akan menjadi duta-duta yang bertugas mentransfer pengetahuan yang diperolehnya di lingkungan akademik masing-masing. Harapannya, dengan cara tersebut budaya riset Internasional akan semakin berkembang.
Wakil ketua I Bidang akademik Benny Prasetya, M.Pd. I menyampaikan bahwa sesuai proyeksi pengembangan STAIM menuju institut maka penguatan SDM dosen terus dilakukan untuk menghadirkan penelitian-penelitian yang bermutu. ‘’Dengan belajarnya Ibu Nuril Hidayah, MA ke monash University diharapkan bisa memperkuat karakter penelitian di STAIM Probolinggo. Sehingga Riset menjadi budaya dikalangan Civitas akademika ’’ Lanjutnya.

Workshop ini dikordinatori oleh Direktur Herb Feith Indonesia Engagement Centre Monash University Profesor Ariel Heryanto. Ariel beserta beberapa profesor lain seperti Julian Millie, Stacy Holman Jones, dan sejumlah associate professor di Monash seperti Steven Roberts dan Alice Gaby menjadi mentor yang banyak sekali memperkenalkan hal baru di bidang riset dan publikasi internasional. Menurut Nuril, yang hebat dari program ini adalah mengajarkan bagaimana akademisi dapat benar-benar memberikan impact kepada masyarakat dengan cara-cara baru yang lebih menarik dan lebih efektif, sehingga akademisi tidak hanya berada di “ivory tower”.

Nuril sendiri membawa riset tentang ekosistem informasi dan pengaruhnya pada pembentukan identitas religius. Riset-riset tentang ekosistem informasi selama ini lebih banyak mengaitkannya dengan politik dan demokrasi. Tetapi dampaknya pada kehidupan beragama belum banyak tersentuh. Riset ini akan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang apa yang harus dihadapi jika kita ingin memelihara ikatan-ikatan sosial umat beragama di Indonesia (Bny)