Jl. Sukarno Hatta 94-B, Kota Probolinggo
Sen-Sab: 08:30 - 19:30
February 3, 2020 0 Comments

Dosen STAIM Ikuti internasional 27th AMIC International Conference di Bangkok

Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar penting dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pilar ini bermakna bahwa insan akademik di perguruan tinggi tidak hanya tinggal di menara gading, melainkan secara aktif berperan dalam melakukan transformasi sosial. Untuk melaksanakan pilar ini, dosen-dosen STAI Muhammadiyah Probolinggo berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat baik di bidang peningkatan keilmuan, keislaman, keindonesiaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, maupun kegiatan-kegiatan filantropi.

Edukasi literasi digital bagi masyarakat adalah bentuk pengabdian masyarakat yang digeluti oleh salah satu dosen STAI Muhammadiyah Probolinggo, Nuril Hidayah, MA. Melalui kiprahnya di komunitas masyarakat yang bergerak melawan hoaks bernama MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Nuril aktif melakukan edukasi literasi digital kepada berbagai lapisan masyarakat. Selain melakukan edukasi, komunitas ini juga aktif melakukan kegiatan cek fakta secara crowdsourcing. Hasil cek fakta ini dipublikasikan dan didiseminasikan melalui kanal-kanal media sosial. Hasil-hasil cek fakta ini kemudian dipetakan oleh divisi riset ini berdasarkan kategori-kategori tertentu oleh divisi penelitian dan pengembangan di mana Nuril menjadi anggotanya. Hasil pemetaan inilah yang menginspirasinya untuk melakukan riset tentang radikalisasi online.

Pada awal tahun 2019, MAFINDO merilis laporan tahunan tentang pemetaan hoaks di Indonesia selama tahun 2018. Dalam laporan tersebut tampak adanya peningkatan hoaks agama bersamaan dengan terjadinya beberapa peristiwa intoleransi dan kekerasan. Hal ini menimbulkan suatu dugaan bahwa ada hubungan yang signifikan antara peningatan hoaks bertema agama dengan insiden-insiden tersebut. Dugaan ini kemudian membawa Nuril pada pertanyaan penelitian “Bagaimana bentuk disinformasi bertema agama jika ditinjau dari perspektif manipulasi bahasa dan apa pengaruhnya bagi pembentukan identitas agama yang eksklusif?

Riset inilah yang membawanya sampai ke forum ilmiah internasional  27th AMIC International Conference yang dilaksanakan di Chulalongkorn University  Bangkok Thailand bertema “Communication, Technology, and New Humanism”. AMIC yang merupakan singkatan dari Asian Media Information and Communication Centre adalah asosiasi internasional akademisi komunikasi yang berusaha membangun keilmuan di bidang komunikasi dan informasi yang lebih Asian-based. Pada forum internasional ini periset dalam bidang komunikasi  dan informasi dari berbagai negara bertemu untuk menyajikan dan mendiskusikan isu-isu keilmuan terbaru dalam kaitannya dengan komunikasi, informasi, teknologi, dan humanisme baru.

Pada forum ini, Nuril berkesempatan memaparkan beberapa temuan risetnya di depan audiens dari berbagai negara. Melalui kacamata pragmatika bahasa, Nuril menjelaskan berbagai tipe manipulasi bahasa yang terdapat dalam hoaks-hoaks bertema agama yang tersebar di Indonesia. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa hoaks-hoaks tersebut berperan dalam membentuk identitas agama yang eksklusif sembari menciptakan kelompok-kelompok out group yang dilabeli dengan stereotip-stereotip negatif tertentu. Hal ini dilakukan dengan cara memanipulasi mekanisme filter informasi oleh publik yang berupa generalization, deletion, dan distortion.

Nuril mewanti-wanti bahwa stereotip-stereotip yang disebarkan lewat informasi palsu ini dapat menumbuhkan bibit-bibit kebencian yang bagaikan api dalam sekam. Dalam piramida kebencian, stereotip ini merupakan tahapan bias dan prasangka, sebelum menjadi diskriminasi, kekerasan, dan genosida. Akan tetapi, sekalipun bukan termasuk tindakan kriminal, sewaktu-waktu jika mendapatkan pemicu yang tepat, api ini dapat berubah menjadi gelombang kekerasan. Karena itu diperlukan upaya-upaya strategis untuk mengendalikan disinformasi bertema agama ini. Hal inilah yang mendorongnya untuk semakin aktif melakukan edukasi literasi digital bagi masyarakat.(VYA)

February 3, 2020 0 Comments

Upaya Pembudayaan Riset Bertaraf Internasional di STAI Muhammadiyah Probolinggo

Pada hari Selasa tanggal 10 Desember 2019, bertempat di Aula Kampus, STAI Muhammadiyah Probolinggo mengadakan International Academic Writing Workshop. Kegiatan diikuti oleh dosen-dosen dan mahasiwa yang sedang dan akan melakukan penelitian sebagai tugas akhir. Desain kegiatan ini diatur sedemikian rupa agar dosen dan mahasiswa STAI Muhammadiyah Probolinggo nantinya dapat menghasilkan karya-karya ilmiah bertaraf internasional.

Bertindak sebagai narasumber pada acara ini adalah Nuril Hidayah dan Benny Presetiya dengan dimoderatori oleh Ari Susandi. Nuril adalah salah satu dosen STAI Muhammadiyah Probolinggo yang baru saja mendapatkan pelatihan menulis ilmiah bertaraf internasional bersama 9 dosen lain dari seluruh penjuru Indonesia di Monash University Australia. Pada kegiatan ini, Nuril menyampaikan apa yang diserapnya selama pelatihan. Ia menyatakan ada dua karakter utama penelitian bertaraf internasional yaitu argumen dan impact yang harus betul-betul jelas. Yang dimaksud dengan kejelasan argumen adalah bahwa sebuah riset harus mampu menunjukkan what to argue. Seringkali sebuah penelitian hanya mendeskripsikan fenomena, tetapi tidak menjelaskan fenomena dengan melakukan interpretasi, sehingga kontribusi akademiknya tidak jelas. Riset yang baik adalah yang setelah mendeskripsikan fenomena, mampu menjawab pertanyaan “so what?”.

Nuril juga menyinggung adanya perbedaan antara tipe penulisan proposal orang Indonesia dan penelitian internasional. Banyak dari peneliti Indonesia yang cenderung berpanjang-panjang dalam menulis latar belakang sementara penelitian internasional cenderung sangat singkat menjelaskan research background karena yang terpenting adalah what’s next. Jika diumpamakan sebuah riset ingin menjelaskan tentang pohon, peneliti Indonesia tidak langsung membahas pohon, tetapi menjelaskan hutan rimba terlebih dahulu.

Adapun yang dimaksudkan dengan impact adalah signifikansi riset. Poin penting yang harus mendapatkan perhatian dalam hal ini adalah tentang kaitan antara signifikansi riset dan literature review. Banyak peneliti yang sibuk menjelaskan bahwa belum ada yang mengkaji risetnya tetapi lupa menjelaskan mengapa risetnya sangat penting. Karena belum adanya peneliti lain yang membahas bukan berarti dengan sendirinya riset itu menjadi penting. Boleh jadi belum ada yang meneliti karena subjek riset tersebut memang tidak signifikan. Jebakan yang lain, adalah terkadang peneliti hanya menjelaskan pentingnya objek penelitiannya, padahal yang penting untuk dijelaskan adalah betapa pentingnya risetnya.

Pada kegiatan ini peseta juga diminta mempraktikkan metode story telling dalam menjelaskan riset atau rencana riset mereka masing-masing. Metode ini amat berguna untuk diterapkan dalam penulisan abstrak dan introduction. Peserta tampak sangat antusias mengikuti sesi ini. bagi mereka metode story telling tidak hanya membantu mereka menyampaikan gagasan mereka dengan mudah tetapi juga membuat mereka semakin percaya diri karena mendapatkan pemahaman bahwa riset ilmiah sesungguhnya tidak serumit itu.

Sesi kedua diisi oleh Benny Prasetiya, Wakil Ketua I bidang Akademik. Benny menjelaskan lebih jauh hal-hal teknis yang berkaitan dengan publikasi karya ilmiah, terutama tentang submisi jurnal, pembuatan akun Google Scholar, pentingnya sitasi serta teknik sitasi. Tidak hanya menyampaikan materi, sesi kedua ini juga diteruskan pada tahap praktik, hingga di akhir sesi hampir semua peserta berhasil memiliki akun Google Scholar yang telah terverifikasi.

Benny menyatakan, setelah berakhirnya kegiatan peserta dapat menerapkan apa yang didapat selama workshop untuk menjadi lebih produktif dan meningkatkan mutu tulisan-tulisannya hingga bertaraf internasional. Dengan demikian, visi dan misi STAI Muhammadiyah Probolinggo untuk menjadi institusi pendidikan tinggi yang bersaing pada level internasional akan semakin dekat dengan kenyataan. (Vya)